
Kapan Boleh Percaya Output AI, Kapan Strategist Harus Pegang Kendali Sendiri
Satu strategist junior nunjukin hasil riset kompetitor yang lengkap banget ke atasannya — semua udah dirapikan oleh AI dalam waktu singkat. Atasannya baca sebentar, terus

Satu strategist junior nunjukin hasil riset kompetitor yang lengkap banget ke atasannya — semua udah dirapikan oleh AI dalam waktu singkat. Atasannya baca sebentar, terus

Riset yang dulu makan waktu berhari-hari sekarang bisa selesai dalam hitungan menit. Brainstorming yang dulu butuh satu sesi meeting panjang sekarang bisa dapat puluhan opsi

Framework strategi yang dipelajarin dari kelas atau buku sering dirancang buat kondisi ideal: waktu cukup, data lengkap, satu orang pemegang keputusan. Kenyataan kerja di tim

SWOT udah diisi. 4P udah dibahas. Customer journey map udah digambar lengkap di whiteboard. Tapi begitu semua framework itu selesai diisi, strateginya tetap nggak jalan

Sebuah brand nge-post campaign yang keliatan aspirational banget — visual mewah, gaya hidup sempurna, tone yang bikin envy. Bagus dari sisi estetika. Tapi kolom komentarnya

Dua brief komunikasi, dua pendekatan berbeda. Brief pertama minta konten yang fokus jelasin fitur dan manfaat produk secara detail. Brief kedua minta konten yang lebih

Template strategi paling baru udah di-download. Framework yang lagi rame dibahas di LinkedIn udah dicoba. Deck-nya diisi sesuai kotak-kotak yang disediain templatenya. Tapi begitu jadi,

Ada satu kecemasan yang cukup umum di kalangan orang strategy sekarang: takut ketinggalan karena belum jago-jago amat pakai AI tools terbaru, sementara linimasa penuh orang

Dashboard analytics kamu penuh angka: search volume naik, komentar netizen soal satu topik lagi rame, performa konten tertentu tiba-tiba melejit. Semua data itu ada di

Ada dua tipe campaign yang sering bikin tim marketing frustrasi dengan cara yang berbeda. Tipe pertama: campaign branding-nya rame, engagement tinggi, banyak yang bahas —