Satu strategist junior nunjukin hasil riset kompetitor yang lengkap banget ke atasannya — semua udah dirapikan oleh AI dalam waktu singkat. Atasannya baca sebentar, terus nanya satu pertanyaan simpel: “menurut kamu sendiri, mana dari semua ini yang paling penting buat klien kita?” Junior itu diam. Dia punya semua data, tapi belum sempat mikirin sendiri mana yang beneran berarti.
Ini bukan soal AI-nya salah. Ini soal batas antara “AI bantu ngumpulin” dan “AI gantiin mikir” yang kadang kelewat tanpa disadari.
Ada Bagian Kerja Strategist yang Nggak Boleh Dilepas ke AI
AI sangat andal buat kerjaan yang sifatnya mengumpulkan, merangkum, dan mencari pola dari data dalam jumlah besar. Tapi ada satu bagian kerja strategist yang sifatnya beda total: menimbang. Menimbang mana insight yang paling relevan buat konteks bisnis spesifik, menimbang risiko yang layak diambil, menimbang gimana satu keputusan bakal diterima klien tertentu dengan sejarah dan sensitivitas mereka sendiri. Bagian ini butuh pengalaman dan konteks yang AI nggak punya akses ke situ.
Chief Strategy Officer di agency besar biasanya ngeliat pola yang sama berulang: tim yang paling cepat pakai AI belum tentu tim yang hasil strateginya paling tajam. Yang bikin beda itu justru seberapa jeli mereka milih bagian mana yang dipercepat AI, dan bagian mana yang tetap mereka pegang sendiri.
Cara Nentuin Kapan Percaya AI, Kapan Pegang Kendali Sendiri
1. Serahkan ke AI kerjaan yang punya banyak kemungkinan benar. Riset awal, ringkasan data, atau generate opsi ide — kerjaan yang sifatnya “banyak jawaban bisa oke” cocok dipercepat pakai AI, karena risikonya kecil kalau salah satu opsi kurang pas.
2. Pegang sendiri kerjaan yang taruhannya besar dan konteksnya spesifik. Keputusan soal positioning final, respons ke krisis, atau strategi yang langsung berhubungan sama reputasi klien sebaiknya tetap lewat penilaian manusia yang paham detail konteks itu secara utuh, bukan cuma pola umum.
3. Jadikan output AI sebagai bahan diskusi, bukan keputusan final. Cara paling aman pakai AI adalah nganggap hasilnya sebagai draf yang harus didebat dan dipertanyakan tim, bukan jawaban akhir yang tinggal dipakai.
4. Latih tim buat tetap bisa kerja tanpa AI. Tim yang sense strategisnya tetap tajam biasanya tim yang masih rutin latihan mikir dari nol, bukan cuma terbiasa mengedit hasil AI. Ini yang bikin mereka tetap bisa menilai kapan output AI beneran bagus dan kapan meleset.
Belajar dari Chief Strategy Officer yang Mimpin Tim di Agency Besar
Salah satu Video Learning eksklusif di program Remarketing × We/Strat ngebahas ini langsung: peran AI di research, synthesis, ideation, dan strategy development, cara ngecek bias dan hallucination, sampai milih bagian mana yang bisa dipercepat AI dan mana yang tetap harus dipegang human judgment.
Video Learning “AI Made Us Faster. Did It Make Us Better?” ini dibawain bareng sama Arya Kumbara, Chief Strategy Officer Mullenlowe Lintas Indonesia, dan Buyung Widhisyah Putra, Director of Strategy Bounce Indonesia. Ini cuma satu dari 4 Video Learning eksklusif di program Remarketing × We/Strat, di samping 6x Live Class soal cara bedah brief, gali insight audience, susun strategi yang bisa dieksekusi, presentasiin deck ke klien, nyeimbangin brand dan conversion, sampai ubah data jadi ide kreatif pakai AI. Total 10 materi, semuanya dibawain praktisi yang beneran ngerjain ini tiap hari.
Kenalan Sama Semua Praktisinya
Ini bukan kelas satu orang. Ada 14 senior leader strategy dari agency dan brand ternama yang gantian ngajar sepanjang program:
Punya semua data bukan jaminan tahu mana yang paling penting. Kemampuan menimbang itu yang bikin strategist tetap dibutuhin walau AI makin canggih, dan itu skill yang paling cepat diasah dari orang yang tiap hari mimpin keputusan strategi di level tertinggi.






