Ada satu kecemasan yang cukup umum di kalangan orang strategy sekarang: takut ketinggalan karena belum jago-jago amat pakai AI tools terbaru, sementara linimasa penuh orang yang pamer workflow AI-nya. Rasanya kayak skill lama jadi nggak berharga lagi.
Padahal, sebelum ada AI, sebelum ada dashboard real-time, sebelum ada satupun tools yang sekarang dianggap wajib — strategic planning udah jalan, dan sebagian besar prinsip di baliknya masih dipakai persis sama sampai sekarang.
Tools Berubah, Cara Mikir yang Bener Nggak Banyak Berubah
Yang berubah drastis dari dulu ke sekarang itu kecepatan akses data dan jumlah channel yang harus dipikirin. Yang nggak berubah itu proses dasarnya: kemampuan bedah masalah sampai ke akarnya, kemampuan liat pola di balik perilaku orang, dan kemampuan nyusun argumen yang bisa diyakinin ke orang lain. Tools baru cuma mempercepat bagian-bagian tertentu dari proses itu, bukan gantiin prosesnya sama sekali.
Masalahnya, banyak yang kebalik: mikir kalau udah pegang tools paling canggih, otomatis strateginya jadi bagus. Padahal tools secanggih apapun cuma sebagus orang yang mengoperasikannya. Strategist yang cara mikirnya belum kuat, dikasih AI paling canggih pun, hasilnya tetap strategi yang dangkal — cuma lebih cepat dihasilkan.
Prinsip Lama yang Tetap Jadi Fondasi Sekarang
1. Masalah yang jelas selalu lebih penting dari tools yang canggih. Regional strategy yang jalan di berbagai pasar dari dulu selalu mulai dari pertanyaan sederhana: masalah bisnis apa yang beneran mau diselesaikan. Itu nggak berubah walau sekarang datanya jauh lebih banyak dan lebih cepat didapat.
2. Konteks lokal nggak bisa digantiin data global. Tools sekarang bisa kasih data dari mana-mana, tapi pemahaman soal kenapa satu pesan jalan di satu pasar dan nggak jalan di pasar lain tetap butuh pengalaman langsung, bukan cuma angka di dashboard.
3. Kesederhanaan tetap jadi ukuran strategi yang bagus. Dari dulu sampai sekarang, strategi yang gampang dipahami dan gampang dieksekusi selalu ngalahin strategi yang rumit tapi bikin bingung tim sendiri. Makin banyak tools yang dipakai, godaan bikin strategi jadi ribet malah makin besar.
4. Judgment tetap jadi bagian yang nggak bisa dihitung otomatis. Data dan AI bisa kasih rekomendasi, tapi keputusan akhir soal risiko mana yang layak diambil dan momentum mana yang harus dikejar tetap butuh judgment orang yang paham konteks bisnisnya secara utuh.
Belajar dari yang Udah Ngelakuin Strategi Regional Jauh Sebelum Era AI
Salah satu Video Learning eksklusif di program Remarketing × We/Strat ngebahas ini langsung: gimana strategic planning dilakuin sebelum era data real-time dan AI, prinsip fundamental yang tetap relevan, dan apa yang beneran berubah versus apa yang harusnya nggak pernah berubah.
Video Learning “Before AI, There Was Strategy” ini dibawain bareng sama Sapto Handriyanto, Regional Strategy Director POPS Worldwide, dan Syarief Hidayatullah, Founder and Strategy Director Magnahub. Ini cuma satu dari 4 Video Learning eksklusif di program Remarketing × We/Strat, di samping 6x Live Class soal cara bedah brief, gali insight audience, susun strategi yang bisa dieksekusi, presentasiin deck ke klien, nyeimbangin brand dan conversion, sampai ubah data jadi ide kreatif pakai AI. Total 10 materi, semuanya dibawain praktisi yang beneran ngerjain ini tiap hari.
Kenalan Sama Semua Praktisinya
Ini bukan kelas satu orang. Ada 14 senior leader strategy dari agency dan brand ternama yang gantian ngajar sepanjang program:
Skill yang bikin strategist bertahan bukan skill pegang tools tertentu, tapi skill mikir yang kuat, yang tetap kepake mau toolsnya berganti berapa kali pun. Belajar dari yang udah ngelewatin beberapa pergantian tools jadi cara tercepat buat pastiin fondasi kamu nggak goyah.


