Udah Pakai Template Strategi Paling Kekinian, Kok Hasilnya Tetap Generic?
Udah Pakai Template Strategi Paling Kekinian, Kok Hasilnya Tetap Generic?

Udah Pakai Template Strategi Paling Kekinian, Kok Hasilnya Tetap Generic?

Template strategi paling baru udah di-download. Framework yang lagi rame dibahas di LinkedIn udah dicoba. Deck-nya diisi sesuai kotak-kotak yang disediain templatenya. Tapi begitu jadi, hasilnya tetap kerasa generic — kayak bisa ditempel ke brief brand manapun tanpa ada yang berubah.

Ini bukan karena templatenya jelek. Ini karena template nggak pernah dirancang buat mikirin masalah kamu secara spesifik.

Template Ngasih Bentuk, Bukan Ngasih Isi

Template dan framework itu berguna buat ngasih struktur — biar nggak ada yang kelewat, biar prosesnya rapi dan bisa diulang. Tapi struktur yang rapi bukan jaminan isi di dalamnya tajam. Dua strategist bisa isi template yang sama persis, pakai kotak yang sama, tapi hasil satunya generic dan satunya spesifik banget ke masalah klien. Bedanya bukan di templatenya, tapi di ketajaman mikir yang isi kotak-kotak itu.

Di boutique agency, hal ini kerasa banget karena setiap klien beda industri, beda skala, beda masalah. Kalau ngandelin template yang sama buat semua klien, hasilnya jadi tumpukan deck yang keliatan profesional tapi nggak ada satupun yang beneran nempel ke masalah spesifik brand-nya.

Cara Pakai Tools dan Framework Biar Nggak Jadi Generic

1. Pahami dulu framework itu dirancang buat jawab pertanyaan apa. Setiap framework strategi lahir buat nyelesain tipe masalah tertentu. Sebelum dipakai, tanya dulu: apa framework ini beneran cocok sama pertanyaan yang lagi dihadapi klien, atau cuma dipakai karena lagi tren?

2. Isi kotak template pakai temuan spesifik, bukan kalimat aman. Kalau kolom “target audience” bisa diisi kalimat yang sama buat brand kompetitor, itu tandanya belum spesifik. Isi tiap kotak dengan detail yang cuma bisa bener buat brief klien ini, bukan brief manapun.

3. Berani keluar dari template kalau masalahnya nggak pas. Kadang masalah klien nggak muat rapi di kotak-kotak template standar. Strategist yang jago justru berani modifikasi atau gabungin beberapa framework, bukan maksain masalah biar muat di template yang udah ada.

4. Uji hasilnya pakai satu pertanyaan: bisa dipakai brand lain nggak? Kalau strategi yang udah jadi masih bisa ditempel begitu aja ke brand kompetitor tanpa perlu diubah, berarti prosesnya masih di level template, belum sampai ke level strategi yang beneran spesifik.

Belajar dari Founder yang Tiap Hari Nyesuain Strategi Buat Klien Berbeda-beda

Salah satu Video Learning eksklusif di program Remarketing × We/Strat ngebahas ini langsung: gimana milih framework berdasarkan masalah yang dihadapi, bukan berdasarkan template yang lagi tren, sampai cara nyambungin semua tools itu jadi satu alur kerja yang konsisten.

Syarief Hidayatullah

Video Learning · Remarketing × We/Strat
Before AI, There Was Strategy — What the Old School Got Right
Syarief Hidayatullah
Founder and Strategy Director, Magnahub

Lihat Program →

Video Learning “Before AI, There Was Strategy” ini dibawain bareng sama Syarief Hidayatullah, Founder and Strategy Director Magnahub, dan Sapto Handriyanto, Regional Strategy Director POPS Worldwide. Ini cuma satu dari 4 Video Learning eksklusif di program Remarketing × We/Strat, di samping 6x Live Class soal cara bedah brief, gali insight audience, susun strategi yang bisa dieksekusi, presentasiin deck ke klien, nyeimbangin brand dan conversion, sampai ubah data jadi ide kreatif pakai AI. Total 10 materi, semuanya dibawain praktisi yang beneran ngerjain ini tiap hari.

Kenalan Sama Semua Praktisinya

Ini bukan kelas satu orang. Ada 14 senior leader strategy dari agency dan brand ternama yang gantian ngajar sepanjang program:

Yhanuar Purbokusumo

Yhanuar Purbokusumo
Brand Strategy Consultant
Fajar Arismunandar

Fajar Arismunandar
Senior Director, Nation Insights
Maria Angelica

Maria Angelica
Founder Think of View (TOV), part of FCN Group
Ruli Himawan Nugroho

Ruli Himawan Nugroho
Head of Marketing Communication, BCA Syariah
Indra Permadi

Indra Permadi
Head of Strategy, Good People Network
Wimala Djafar

Wimala Djafar
Director of H+ and Innovation, Hakuhodo International Indonesia
Sapto Handriyanto

Sapto Handriyanto
Regional Strategy Director, POPS Worldwide
Syarief Hidayatullah

Syarief Hidayatullah
Founder and Strategy Director, Magnahub
Resa Pattiwael

Resa Pattiwael
Executive Advisor, MAKA Group & Growinc Group Indonesia
Sismita Sasmita

Sismita Sasmita
COO, Pantarei Communications
Inayati Suryani

Inayati Suryani
VP Strategy & Data, vosFoyer
Alf Ghibran Prasojo

Alf Ghibran Prasojo
Retail Banking Marketing Specialist, Bank Jago
Buyung Widhisyah Putra

Buyung Widhisyah Putra
Director of Strategy, Bounce Indonesia
Arya Kumbara

Arya Kumbara
Chief Strategy Officer, Mullenlowe Lintas Indonesia

Template yang bagus cuma alat bantu, bukan pengganti cara mikir. Yang bikin strategi kerasa spesifik dan bukan generic itu ketajaman ngisi kotak-kotaknya, dan itu skill yang paling cepat dipelajarin dari orang yang tiap hari ngerjain strategi buat klien yang beda-beda.

Share this post :

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Threads
X

Support System-nya Digital Marketing Se-Indonesia agar #JadiTerusRelevan dengan kebutuhan Industri terkini.

Copyright © 2025 Remarketing. All rights reserved

#JadiTerusRelevan dengan newsletter kami

Support System-nya Digital Marketing Se-Indonesia agar #JadiTerusRelevan dengan kebutuhan Industri terkini.

Copyright © 2025 Remarketing. All rights reserved

Article
// Lanjut baca

Artikel lainnya

Marketing Strategy
Sebelum Ada AI, Strategist Udah Mikir Gini: Prinsip yang Nggak Pernah Berubah
Marketing Strategy
Data Numpuk Tapi Nggak Nemu Ide? Ini Cara Ubah Data Jadi Ide Kreatif Pakai AI
Marketing Strategy
Brand Campaign Rame Tapi Sales Diam? Ini Cara Nyeimbangin Brand & Conversion