Riset yang dulu makan waktu berhari-hari sekarang bisa selesai dalam hitungan menit. Brainstorming yang dulu butuh satu sesi meeting panjang sekarang bisa dapat puluhan opsi dari satu prompt. Kerjaan strategist jelas jauh lebih cepat sejak ada AI.
Tapi ada satu pertanyaan yang jarang ditanya di tengah euforia kecepatan itu: lebih cepat, iya. Tapi apa hasilnya beneran lebih tajam?
Kecepatan dan Ketajaman Itu Dua Hal yang Beda
AI emang bikin proses kerja strategist jauh lebih cepat — dari riset, sintesis informasi, sampai ideation. Tapi kecepatan itu punya risiko sendiri: makin cepat dapat jawaban, makin gampang juga berhenti di jawaban pertama tanpa nanya lagi apakah itu jawaban yang paling tepat atau cuma jawaban yang paling gampang keluar dari AI.
Ada juga risiko yang lebih halus: bias dan hallucination. AI bisa ngasih jawaban yang kedengaran meyakinkan padahal dasarnya lemah atau bahkan salah. Strategist yang nggak biasa ngecek ulang bisa kebawa pakai temuan itu mentah-mentah, padahal tugas strategist justru mempertanyakan, bukan cuma menerima.
Cara Pakai AI Tanpa Kehilangan Ketajaman Berpikir
1. Pakai AI buat mempercepat proses, bukan buat gantiin keputusan. Biarkan AI bantu ngumpulin opsi, nyortir data, atau bikin draf awal. Tapi keputusan final soal arah mana yang diambil tetap harus lewat penilaian kamu yang paham konteks bisnis dan brand-nya.
2. Selalu tanya “kenapa” ke jawaban yang dikasih AI. Kalau AI kasih rekomendasi, jangan langsung dipakai. Tanya dulu apa dasar dari rekomendasi itu, dan cek apakah dasarnya beneran relevan sama konteks yang lagi dihadapi, atau cuma pola umum yang sering muncul di data latihannya.
3. Latih teknik prompting yang spesifik, bukan generic. Kualitas output AI sangat tergantung sama kualitas pertanyaan yang diajukan. Prompt yang detail dan spesifik ke konteks masalah biasanya ngasih hasil yang jauh lebih berguna dibanding prompt umum yang bisa dipakai buat masalah apa aja.
4. Sisihkan waktu buat mikir tanpa AI sama sekali. Sesekali, coba proses berpikir dari nol tanpa bantuan AI. Ini bukan soal anti-teknologi, tapi soal ngejaga otot berpikir kamu sendiri tetap kuat, biar nggak jadi ketergantungan yang bikin sense strategis pelan-pelan tumpul.
Belajar dari Director of Strategy yang Kerja Langsung dengan AI Setiap Hari
Salah satu Video Learning eksklusif di program Remarketing × We/Strat ngebahas ini langsung: peran AI di research, synthesis, ideation, dan strategy development, teknik prompting, cara ngecek bias dan hallucination, sampai milih bagian mana yang bisa dipercepat dan mana yang tetap butuh human judgment.
Video Learning “AI Made Us Faster. Did It Make Us Better?” ini dibawain bareng sama Buyung Widhisyah Putra, Director of Strategy Bounce Indonesia, dan Arya Kumbara, Chief Strategy Officer Mullenlowe Lintas Indonesia. Ini cuma satu dari 4 Video Learning eksklusif di program Remarketing × We/Strat, di samping 6x Live Class soal cara bedah brief, gali insight audience, susun strategi yang bisa dieksekusi, presentasiin deck ke klien, nyeimbangin brand dan conversion, sampai ubah data jadi ide kreatif pakai AI. Total 10 materi, semuanya dibawain praktisi yang beneran ngerjain ini tiap hari.
Kenalan Sama Semua Praktisinya
Ini bukan kelas satu orang. Ada 14 senior leader strategy dari agency dan brand ternama yang gantian ngajar sepanjang program:
AI bikin strategist kerja lebih cepat, tapi kecepatan itu cuma berharga kalau dipakai buat mikir lebih dalam, bukan buat berhenti mikir lebih awal. Beda tipis itu yang nentuin hasil kerja kamu tetap tajam atau justru pelan-pelan tumpul.






