Sebuah brand nge-post campaign yang keliatan aspirational banget — visual mewah, gaya hidup sempurna, tone yang bikin envy. Bagus dari sisi estetika. Tapi kolom komentarnya justru penuh sindiran: “produknya aja gitu doang, kok imagery-nya kayak brand luar negeri.” Campaign yang niatnya bikin orang pengen malah bikin orang skeptis.
Ini bukan masalah desainnya jelek. Ini masalah imagery yang dibangun kelewat jauh dari kenyataan produknya.
Audience Sekarang Gampang Ngecek, Bukan Cuma Percaya
Dulu, brand imagery bisa dibangun cukup jauh dari kenyataan produk karena audience nggak punya banyak cara buat verifikasi. Sekarang beda — review ada di mana-mana, orang bisa cek pengalaman pengguna lain dalam hitungan detik, dan gap antara “yang dijanjiin” sama “yang beneran dialamin” langsung kelihatan dan dibahas terbuka. Di titik ini, PR dan komunikasi brand punya kerjaan yang makin penting: mastiin imagery yang dibangun nggak ninggalin product truth terlalu jauh di belakang.
Bukan berarti brand nggak boleh aspirational. Justru sebaliknya, imagery yang aspirational itu penting buat bikin orang peduli. Tapi aspirational dan bohong itu beda tipis, dan bedanya ada di seberapa jujur brand itu soal apa yang bisa dan nggak bisa produknya kasih.
Cara Jaga Brand Imagery Tetap Aspirational Tapi Dipercaya
1. Cek dulu klaim di balik imagery itu bisa dibuktiin apa nggak. Sebelum bikin visual yang megah, pastiin ada dasar nyata di baliknya. Kalau imagery-nya soal “kualitas premium,” pastikan ada elemen produk yang beneran bisa nunjukin itu, bukan cuma soal pencahayaan foto yang bagus.
2. Biarkan audience yang udah pakai produk jadi bagian dari cerita. Testimoni dan pengalaman nyata dari pengguna adalah bentuk imagery yang paling susah dibantah, karena itu bukan klaim brand sendiri. Ini juga jadi bahan yang paling kuat buat PR ketika ada yang mempertanyakan kejujuran campaign.
3. Siapkan respons buat gap yang pasti bakal ditanyain. Kalau ada jarak antara imagery dan kenyataan produk yang belum bisa ditutup sepenuhnya, lebih baik brand sudah punya jawaban jujur duluan, daripada baru mikir jawabannya pas rame dikomentarin.
4. Ukur kepercayaan, jangan cuma ukur engagement. Campaign yang engagement-nya tinggi tapi komentarnya penuh sindiran itu sinyal bahaya, bukan pencapaian. PR yang baik ngukur bukan cuma seberapa rame dibahas, tapi seberapa positif nada pembicaraannya.
Belajar dari COO yang Kerjaannya Jaga Reputasi Brand Klien
Salah satu Video Learning eksklusif di program Remarketing × We/Strat ngebahas ini langsung: gimana bedain peran functional benefit dan brand imagery, dan cara nyatuin product truth sama emotional meaning biar brand tetap aspirational tanpa kehilangan kepercayaan audience.
Video Learning “Sell the Product or Sell the Dream?” ini dibawain bareng sama Sismita Sasmita, COO Pantarei Communications, dan Resa Pattiwael, Executive Advisor MAKA Group & Growinc Group Indonesia. Ini cuma satu dari 4 Video Learning eksklusif di program Remarketing × We/Strat, di samping 6x Live Class soal cara bedah brief, gali insight audience, susun strategi yang bisa dieksekusi, presentasiin deck ke klien, nyeimbangin brand dan conversion, sampai ubah data jadi ide kreatif pakai AI. Total 10 materi, semuanya dibawain praktisi yang beneran ngerjain ini tiap hari.
Kenalan Sama Semua Praktisinya
Ini bukan kelas satu orang. Ada 14 senior leader strategy dari agency dan brand ternama yang gantian ngajar sepanjang program:
Imagery yang paling kuat bukan yang paling mewah, tapi yang paling jujur soal apa yang produknya beneran bisa kasih. Begitu kejujuran itu ada, audience yang tadinya skeptis bisa balik jadi orang yang paling percaya sama brand-nya.






