SWOT udah diisi. 4P udah dibahas. Customer journey map udah digambar lengkap di whiteboard. Tapi begitu semua framework itu selesai diisi, strateginya tetap nggak jalan — bukan karena frameworknya salah, tapi karena dari awal nggak jelas framework itu sebenarnya lagi jawab pertanyaan apa.
Ini kejadian yang cukup umum: makin banyak framework yang dikuasai, kadang makin gampang lupa kalau framework itu alat, bukan tujuan.
Framework yang Tepat Selalu Mulai dari Masalah, Bukan dari Daftar Tools
Kesalahan yang sering kejadian itu kebalik urutannya: mulai dari “framework apa yang harus dipakai” duluan, baru nyari masalah yang muat di situ. Padahal urutan yang benar itu sebaliknya — kenali dulu masalahnya secara spesifik, baru cari atau susun framework yang paling pas buat masalah itu. Kalau nggak ada satupun framework standar yang pas, biasanya lebih baik gabungin beberapa atau modifikasi seperlunya, dibanding maksain satu framework yang nggak nyambung.
Data dan strategy itu dua hal yang harus jalan bareng dari awal, bukan data dikumpulin duluan baru dicari framework buat “membungkusnya” biar keliatan rapi. Framework yang baik justru bantu nentuin data apa aja yang perlu dicari dari awal.
Cara Milih Tools dan Framework yang Beneran Berguna
1. Rumuskan dulu pertanyaan yang mau dijawab. Sebelum milih framework, tulis dulu pertanyaan spesifik yang lagi dicari jawabannya — apakah soal positioning, soal audience, soal kompetisi, atau soal masalah komunikasi. Framework yang dipilih harus jelas nyambung ke pertanyaan itu.
2. Cek apakah frameworknya cocok sama skala dan konteks masalahnya. Framework yang cocok buat strategi besar lintas tahun belum tentu cocok dipakai buat masalah komunikasi jangka pendek, begitu juga sebaliknya. Sesuaikan skala tools sama skala masalah yang dihadapi.
3. Jangan takut modifikasi kalau template standarnya nggak pas persis. Framework yang paling berguna sering kali adalah versi yang udah disesuaikan sama kebutuhan spesifik tim atau klien, bukan versi mentah yang di-copy langsung dari buku atau artikel.
4. Sambungkan semua tools jadi satu alur kerja, bukan potongan-potongan lepas. Tools buat problem framing, insight, positioning, sampai communication planning harusnya nyambung satu sama lain dalam satu proses, bukan dipakai terpisah-pisah tanpa benang merah yang jelas.
Belajar dari VP Strategy yang Tiap Hari Kerja dengan Data dan Framework
Salah satu Video Learning eksklusif di program Remarketing × We/Strat ngebahas ini langsung: cara milih framework berdasarkan problem, bukan berdasarkan template, tools buat problem framing sampai communication planning, dan cara nyambungin semua itu jadi satu alur kerja yang jelas.
Video Learning “Tools We Actually Use” ini dibawain bareng sama Inayati Suryani, VP Strategy & Data vosFoyer, dan Alf Ghibran Prasojo, Retail Banking Marketing Specialist Bank Jago. Ini cuma satu dari 4 Video Learning eksklusif di program Remarketing × We/Strat, di samping 6x Live Class soal cara bedah brief, gali insight audience, susun strategi yang bisa dieksekusi, presentasiin deck ke klien, nyeimbangin brand dan conversion, sampai ubah data jadi ide kreatif pakai AI. Total 10 materi, semuanya dibawain praktisi yang beneran ngerjain ini tiap hari.
Kenalan Sama Semua Praktisinya
Ini bukan kelas satu orang. Ada 14 senior leader strategy dari agency dan brand ternama yang gantian ngajar sepanjang program:
Framework yang paling canggih pun nggak akan nolongin kalau nggak jelas dari awal masalah apa yang lagi dijawab. Milih tools yang tepat itu skill sendiri, dan skill itu yang paling cepat dipelajarin dari orang yang tiap hari kerja langsung sama data dan strategi.






