Kalau kamu pernah melihat iklan produk yang baru saja kamu lihat di toko online, kamu sudah mengalami remarketing. Ini salah satu strategi paling efisien di digital marketing — dan kebetulan, jadi nama brand kami.
Remarketing (atau retargeting) adalah strategi menargetkan ulang orang yang sudah pernah berinteraksi dengan brandmu — mengunjungi situs, menonton video, atau meninggalkan keranjang — untuk menariknya kembali. Karena audiensnya sudah kenal brandmu, biaya per konversinya biasanya jauh lebih rendah daripada menyasar audiens dingin.
Setiap kali seseorang mengunjungi situs atau berinteraksi dengan kontenmu, sebuah penanda (pixel atau cookie) merekamnya ke dalam sebuah audiens. Platform iklan lalu bisa menampilkan iklan khusus ke audiens itu di Instagram, Facebook, Google, YouTube, sampai TikTok. Kamu tidak lagi menembak sembarang orang — kamu menyapa ulang orang yang sudah menunjukkan minat.
Menargetkan pengunjung berdasarkan halaman yang mereka buka — misalnya orang yang melihat halaman produk tapi belum checkout.
Menyasar orang yang memasukkan barang ke keranjang tapi tidak menyelesaikan pembelian. Rata-rata sekitar 70% keranjang ditinggalkan, jadi ini biasanya sumber konversi termurah.
Mengunggah daftar email pelanggan untuk menyasar mereka lagi — untuk penjualan ulang, cross-sell, atau reaktivasi.
Menyasar orang yang menonton videomu atau berinteraksi dengan akun media sosialmu, meski belum pernah ke situs.
Dua istilah ini praktis sama dan sering dipakai bergantian. Bedanya tipis dan historis: retargeting lebih lekat ke iklan display berbasis pixel ke pengunjung situs, sedangkan remarketing (istilah yang dipopulerkan Google) cakupannya lebih luas dan sering termasuk email ke pelanggan lama. Di praktik sehari-hari, keduanya berarti hal yang sama: menyapa ulang orang yang sudah kenal brandmu.
Karena menyasar orang yang sudah kenal brandmu, remarketing menghapus bagian tersulit dari pemasaran: membangun kesadaran dari nol. Audiensnya lebih hangat, lebih percaya, dan lebih dekat ke keputusan. Hasilnya biaya per konversi lebih rendah dan ROAS lebih tinggi. Itu sebabnya hampir semua brand yang serius beriklan selalu punya lapisan remarketing di funnelnya.
Meta Ads memakai Custom Audience dari pixel, daftar pelanggan, atau interaksi akun — cocok untuk retargeting pengunjung dan penonton konten. Google Ads menampilkan iklan display, YouTube, dan pencarian ke daftar remarketing-mu di seluruh jaringannya. TikTok Ads menyasar ulang orang yang menonton video atau mengunjungi situsmu. Istilah seperti pixel, custom audience, dan lookalike dijelaskan di kamus istilah marketing kami.
Kami memilih nama Remarketing bukan cuma karena istilahnya keren — tapi karena filosofinya. Inti remarketing adalah terus terhubung dan tetap relevan dengan orang yang sudah mengenalmu. Buat kami, prinsip itu berlaku juga untuk digital marketer: dunia ini berubah cepat, dan satu-satunya cara bertahan adalah terus relevan.
Dari situ lahir tagline kami — #jaditerusrelevan. Dan dari situ pula lahir ekosistemnya: satu tempat yang menemani perjalanan seorang digital marketer supaya tidak pernah ketinggalan.
Jadi kalau kamu ke sini nyari tahu apa itu remarketing, sekalian aja: pakai strateginya di kerjaanmu, dan pakai ekosistem ini buat #jaditerusrelevan di digital marketing.
Belajar remarketing & seluruh digital marketing dari praktisi brand top Indonesia. 250++ video learning, mentoring grup, & live class tiap bulan — sekali bayar, akses selamanya.
Lihat Resource Remarketing →Remarketing adalah strategi menampilkan iklan atau pesan kepada orang yang sudah pernah berinteraksi dengan brandmu — mengunjungi situs, menonton video, memasukkan barang ke keranjang, atau membuka aplikasi. Tujuannya menarik mereka kembali untuk menyelesaikan aksi yang belum selesai.
Praktis sama dan sering dipakai bergantian. Secara historis, retargeting lebih merujuk ke iklan display berbasis cookie/pixel ke pengunjung situs, sedangkan remarketing (istilah dari Google) lebih luas dan sering mencakup juga email ke pelanggan lama. Di lapangan, keduanya berarti menargetkan ulang orang yang sudah kenal brandmu.
Karena kamu menargetkan orang yang sudah kenal brandmu, bukan audiens dingin. Mereka butuh lebih sedikit meyakinkan, jadi biaya per konversinya biasanya jauh lebih rendah — dan retargeting rutin dianggap salah satu penggunaan budget iklan paling efisien.
Kamu lihat sepatu di sebuah toko online, tidak jadi beli, lalu iklan sepatu itu muncul di Instagram dan Google-mu beberapa hari kemudian. Atau kamu tinggalkan keranjang, lalu dapat email 'barangmu masih menunggu'. Itu remarketing.
Kami menamai brand ini Remarketing karena filosofinya: terus terhubung dan relevan dengan orang yang sudah kenal kamu. Buat digital marketer, itu berarti terus mengasah diri biar #jaditerusrelevan — dan itulah yang kami sediakan lewat tools, loker, video learning, live class, dan komunitas.