ROAS (Return on Ad Spend) adalah perbandingan pendapatan yang kamu dapat dari iklan terhadap biaya iklannya. Gampangnya: tiap Rp1 yang kamu keluarin buat iklan, balik berapa rupiah?
ROAS jadi metrik paling sering dilihat pengiklan karena langsung nunjukin "iklan ini nutup biayanya nggak?". Tapi ROAS gede belum tentu artinya untung. Yang nentuin untung-rugi itu bukan ROAS-nya sendiri, tapi ROAS dibanding break-even ROAS kamu.
| Biaya iklan | Rp2.000.000 |
| Pendapatan dari iklan | Rp8.000.000 |
| ROAS | 8.000.000 ÷ 2.000.000 = 4 (400%) |
Artinya tiap Rp1 yang dikeluarin buat iklan, balik Rp4.
ROAS bagus itu tergantung margin. ROAS 4 kelihatan gede, tapi kalau margin kotor kamu cuma 20%, break-even ROAS kamu = 1 ÷ 0,2 = 5. Artinya ROAS 4 malah rugi. Selalu hitung break-even ROAS (1 ÷ margin kotor) dulu sebelum bilang "ROAS-nya udah bagus".
Nggak ada angka ajaib. Hitung break-even ROAS kamu dulu (1 dibagi margin kotor). ROAS di atas angka itu = untung, di bawahnya = rugi.
ROAS cuma ngitung pendapatan dibanding biaya iklan. ROI ngitung profit bersih dibanding seluruh biaya (produk, ongkos, tim). ROI lebih jujur soal untung.
400% sama dengan ROAS 4. Bagus kalau di atas break-even ROAS kamu, jelek kalau di bawahnya.