Cara Riset Keyword Gratis untuk Pemula 2026: Dari Seed sampai Content Plan - Remarketing
Cara Riset Keyword Gratis untuk Pemula 2026: Dari Seed sampai Content Plan

Cara Riset Keyword Gratis untuk Pemula 2026: Dari Seed sampai Content Plan

Banyak konten bagus sepi pembaca karena satu hal: topiknya nggak pernah dicari orang. Cara riset keyword yang paling praktis untuk pemula sebenarnya bisa 100% gratis: mulai dari seed keyword, lihat apa yang disarankan Google autocomplete dan “People also ask”, cek musimnya di Google Trends, validasi volumenya di Keyword Planner, lalu intip apa yang diketik orang di TikTok dan search bar marketplace. Hasil akhirnya bukan sekadar daftar kata, tapi daftar topik yang siap masuk content plan.

Di artikel ini kita bahas langkahnya satu per satu, lengkap dengan contoh kasus toko skincare lokal dari satu seed keyword sampai jadi 10 topik konten. Cocok untuk blog, sosmed, maupun iklan.

Kenapa riset keyword masih penting di 2026

Mesin pencari sekarang memang makin paham makna. Google Search Central menjelaskan bahwa sistem seperti BERT membantu Google memahami bagaimana kombinasi kata mengekspresikan makna dan intent yang berbeda.

Tapi untuk tahu maksud itu, kamu tetap harus tahu kata apa yang dipakai orang. Panduan resmi Google sendiri menyarankan untuk memikirkan kata yang mungkin diketik pengguna untuk menemukan kontenmu. Orang awam dan ahli sering memakai istilah berbeda untuk hal yang sama. Di panduan yang sama, Google juga menegaskan keyword stuffing melanggar kebijakan spam, jadi riset keyword bukan untuk menjejalkan kata.

Kalau kamu baru mulai SEO, baca dulu panduan SEO untuk pemula, lalu lanjut ke SEO dan GEO untuk pemula 2026 supaya kontenmu juga punya peluang dikutip AI search.

Langkah 1: Pahami search intent sebelum cari kata

Search intent adalah alasan di balik sebuah pencarian. Semrush merangkum empat kategori yang umum dipakai praktisi SEO: informational, navigational, commercial, dan transactional. Contoh dari artikel itu: orang yang mengetik “best running shoes” kemungkinan sedang membandingkan, sedangkan “buy nike running shoes size 10” sudah siap beli.

Intent Contoh keyword (skincare) Format konten yang cocok
Informational cara mengatasi jerawat hormonal Artikel blog, carousel edukasi, video TikTok tips
Navigational nama brand + official store Halaman brand, toko resmi, iklan brand
Commercial serum niacinamide terbaik untuk kulit berminyak Review, perbandingan, listicle
Transactional beli serum niacinamide 10% promo Halaman produk, iklan Search, listing marketplace

Trik cepat menebak intent: ketik keyword-nya di Google dan lihat jenis halaman di halaman pertama. Isinya artikel tips berarti informational, isinya halaman produk berarti transaksional.

Langkah 2: Tentukan seed keyword

Seed keyword adalah kata dasar yang mewakili bisnismu, biasanya 1-2 kata. Untuk toko skincare, seed-nya bisa “serum”, “sunscreen”, “jerawat”, “skincare kulit berminyak”. Cara mencarinya:

  • Daftar produk dan masalah yang diselesaikan. Orang jarang mencari “serum”, mereka mencari solusi: “bekas jerawat”, “kulit kusam”.
  • Baca chat dan komentar pelanggan. Pertanyaan di DM WhatsApp, Instagram, dan ulasan marketplace adalah tambang keyword dengan bahasa asli pembeli.
  • Catat istilah awam dan istilah teknis. “Niacinamide” vs “serum pencerah”. Keduanya dicari, tapi oleh orang yang berbeda tingkat pengetahuannya.

Untuk skincare, nama brand juga penting. Google Indonesia pernah merilis insight bahwa 1 dari 2 pencarian kategori kecantikan menyebut nama brand (data 2019). Jadi masukkan juga kombinasi “nama brand + jenis produk” ke daftar seed, termasuk brand pesaing yang sering dibandingkan dengan produkmu.

Langkah 3: Panen ide dari Google autocomplete dan “People also ask”

Ini cara riset keyword gratis yang paling sering diremehkan. Ketik seed keyword di kolom Google, jangan tekan enter, dan catat semua saran yang muncul. Google menjelaskan bahwa prediksi autocomplete mencerminkan pencarian nyata dan dipengaruhi bahasa, lokasi, dan tren minat terhadap sebuah query.

Beberapa trik supaya hasilnya lebih banyak:

  • Teknik alfabet: ketik “serum niacinamide a”, “serum niacinamide b”, dan seterusnya.
  • Tambahkan kata tanya: “kenapa”, “apakah”, “bolehkah”, “cara”, “berapa lama”.
  • Pakai mode incognito supaya saran nggak terlalu dipengaruhi riwayat pencarianmu sendiri.
  • Scroll ke bawah untuk melihat “Penelusuran terkait” di bagian akhir halaman.

Lalu buka kotak “People also ask” (di tampilan bahasa Indonesia labelnya bisa berbeda, misalnya “Orang lain juga bertanya”). Setiap pertanyaan yang kamu klik akan memunculkan pertanyaan baru. Backlinko menyarankan pertanyaan-pertanyaan di kotak ini sebagai alternatif ketika keyword utama terlalu kompetitif, karena variasinya sering punya tingkat kesulitan lebih rendah. Pertanyaan ini juga cocok langsung dijadikan isi section FAQ.

Langkah 4: Cek tren dan musim di Google Trends

Google Trends nggak menunjukkan jumlah pencarian absolut. Menurut halaman bantuan resminya, data Trends dinormalisasi lalu diskalakan dari 0 sampai 100 berdasarkan porsi topik itu terhadap semua pencarian di lokasi dan periode yang sama. Jadi Trends dipakai untuk membandingkan, bukan menghitung volume.

Tiga cara pakai Trends yang paling berguna untuk pemula:

  1. Bandingkan istilah. Masukkan sampai beberapa istilah sekaligus, misalnya “sunscreen” vs “sunblock” vs “tabir surya”, set lokasi Indonesia dan periode 5 tahun. Istilah dengan garis paling tinggi adalah bahasa yang paling umum dipakai orang.
  2. Lihat pola musiman. Pakai periode 5 tahun supaya pola tahunan kelihatan. Puncak yang berulang di bulan yang sama setiap tahun adalah sinyal musim.
  3. Cek wilayah dan query terkait. Bagian minat per subwilayah dan query terkait (terutama yang sedang naik tajam) bisa memberi ide topik baru.

Untuk pasar Indonesia, dua musim besar yang wajib kamu cek adalah Ramadan dan musim belanja akhir tahun (11.11, Harbolnas 12.12). Data lama dari Google yang diberitakan Kontan menunjukkan pencarian terkait Ramadan naik 33% di 2017 dibanding 2016, dengan tren yang mulai dua minggu sebelum Ramadan, dan pencarian promo naik empat kali lipat dibanding bulan biasa. Di Ramadan 2025, CNBC Indonesia melaporkan jadwal imsak, tanggal Lebaran, rute mudik, sampai tren fashion ramai dicari.

🗓️ Praktik untuk November 2026: waktunya menyiapkan konten Harbolnas 12.12 dan Ramadan 2027. Konten SEO butuh waktu untuk terindeks, jadi tayangkan beberapa minggu sebelum kurva Trends mulai naik, bukan saat puncaknya.

Langkah 5: Gali query yang sudah dapat impresi di Google Search Console

Kalau kamu sudah punya website, ini sumber keyword paling akurat dan paling sering dilupakan. Laporan Performance di Search Console menampilkan klik, impresi, CTR, dan posisi rata-rata, dan dimensi “queries” mengelompokkan data berdasarkan query yang diketik pengguna.

Laptop menampilkan dashboard analitik untuk riset keyword
Foto: Carlos Muza via Unsplash

Cara memakainya:

  1. Buka Performance > Search results, centang keempat metrik, dan ubah rentang tanggal ke 3 sampai 6 bulan terakhir.
  2. Urutkan tabel Queries berdasarkan impresi tertinggi.
  3. Cari query dengan impresi tinggi tapi posisi rata-rata 8 sampai 20 dan CTR rendah. Ini keyword “hampir menang”.
  4. Perbarui artikel yang sudah ada untuk query itu (tambah section, perjelas judul), atau buat artikel baru kalau intent-nya berbeda.

Backlinko juga menyebut keyword yang posisinya sudah di halaman 2 Google sebagai peluang menang tercepat, karena halamannya sudah dekat ke halaman pertama. Supaya bisa melacak trafik dari konten ini sampai ke penjualan, pasang juga GA4 dengan benar lewat panduan GA4 untuk pemula.

Langkah 6: Validasi volume dengan Google Keyword Planner

Keyword Planner adalah alat riset keyword milik Google Ads. Di halaman resminya, Google menyebut Keyword Planner sebagai sumber daya gratis (dicek November 2026). Kamu cukup punya akun Google Ads, tanpa wajib menjalankan kampanye. Namun halaman bantuan Google Ads mencatat bahwa untuk akses fitur dasarnya kamu perlu menyelesaikan setup akun, termasuk informasi penagihan.

Fitur yang paling berguna:

  • Discover new keywords: masukkan seed keyword atau URL website (termasuk website kompetitor) untuk mendapat ratusan ide keyword terkait.
  • Get search volume and forecasts: tempel daftar keyword hasil panen autocomplete untuk melihat estimasi pencarian bulanan.
  • Kolom bid (Top of page bid): estimasi biaya iklan. Keyword dengan bid tinggi biasanya punya nilai komersial tinggi, jadi sinyal bagus untuk konten yang dekat ke penjualan.

Set lokasi ke Indonesia dan bahasa ke Indonesia. Ingat, angka di sini adalah estimasi, dan Google mencatat keyword dengan volume sangat rendah mungkin nggak muncul sama sekali. Jadi pakai untuk membandingkan besar kecilnya peluang, bukan sebagai angka pasti. Mau sekalian pasang iklan Search? Pelajari di panduan Google Ads untuk pemula.

Langkah 7: Riset di TikTok search dan search bar marketplace

Google bukan satu-satunya mesin pencari pembelimu. Tahun 2022, seorang eksekutif Google menyebut bahwa menurut riset internal mereka, hampir 40% anak muda mencari tempat makan siang lewat TikTok atau Instagram, bukan Google Maps atau Search (survei pengguna AS usia 18-24). CNBC Indonesia juga merangkum riset yang menyebut pencarian Gen Z di TikTok mencakup rencana liburan, produk skincare, restoran, dan makanan.

Di TikTok:

  • Ketik seed keyword di kolom search TikTok dan catat saran yang muncul, sama seperti autocomplete Google. Lihat juga bagian “Orang lain mencari” di halaman hasil.
  • Coba Creator Search Insights. TikTok menyebut alat ini memberi kreator wawasan tentang topik yang dicari orang di TikTok, lengkap dengan filter “content gap” untuk topik yang sering dicari tapi masih sedikit videonya. Fitur ini tersedia di wilayah tertentu, jadi cek apakah sudah muncul di akunmu dengan mengetik namanya di kolom search.
  • Untuk iklan, buka Keyword Insights di TikTok Creative Center. Menurut Social Media Today, alat ini menampilkan kata dan frasa yang sering dipakai di iklan TikTok, seberapa populer, dan rata-rata CTR iklan yang memakainya, dengan filter 7, 30, atau 120 hari.

Di marketplace (Shopee, Tokopedia, TikTok Shop): ketik seed di search bar dan catat saran otomatisnya. Saran di marketplace hampir selalu bernada transaksional, misalnya menyebut ukuran, varian, atau kata “original” dan “BPOM”. Ini emas untuk judul produk dan iklan marketplace.

Langkah 8: Fokus ke long-tail keyword

Long-tail keyword adalah frasa yang lebih panjang dan spesifik, misalnya “serum niacinamide untuk kulit berminyak dan bruntusan” dibanding cuma “serum”. Volumenya kecil, tapi jumlahnya sangat banyak. Ahrefs mencatat keyword dengan kurang dari 10 pencarian per bulan mencakup hampir 93% database keyword AS mereka.

Untuk pemula, long-tail punya tiga keuntungan: persaingannya lebih rendah, intent-nya lebih jelas, dan pembacanya biasanya lebih siap bertindak. Jangan menolak keyword hanya karena volumenya terlihat kecil di Keyword Planner.

Langkah 9: Kelompokkan keyword jadi cluster

Setelah panen, kamu mungkin punya 100 sampai 300 keyword. Jangan bikin satu artikel per keyword. Ahrefs mendefinisikan keyword clustering sebagai proses mengelompokkan keyword dengan intent yang sama atau mirip, yang biasanya dilakukan dengan melihat apakah hasil pencariannya mirip.

Cara manual yang gratis:

  1. Taruh semua keyword di Google Sheets, satu keyword per baris.
  2. Tambah kolom: intent, sumber (autocomplete, PAA, Trends, GSC, Keyword Planner, TikTok, marketplace), estimasi volume, dan musim.
  3. Ambil dua keyword yang mirip, cari di Google. Kalau 3 atau lebih dari 5 hasil teratasnya sama, gabungkan dalam satu cluster.
  4. Pilih satu keyword utama per cluster (biasanya yang volumenya paling besar), sisanya jadi subjudul atau FAQ.

Prompt AI untuk mempercepat clustering

AI seperti ChatGPT, Claude, atau Gemini bisa mempercepat tahap ini. Tempel daftar keyword-mu lalu pakai prompt seperti ini:

Kamu adalah SEO strategist untuk toko skincare lokal di Indonesia. Berikut daftar keyword (satu per baris). Tugasmu:
1. Kelompokkan ke dalam cluster berdasarkan search intent yang sama.
2. Untuk tiap cluster, tentukan: keyword utama, intent (informational/commercial/transactional), format konten terbaik (artikel blog, video TikTok, carousel, halaman produk, iklan).
3. Tandai keyword musiman (Ramadan, 12.12, musim hujan).
4. Buat tabel dengan kolom: cluster, keyword utama, keyword pendukung, intent, format, catatan musim.
Jangan menambah keyword baru yang tidak ada di daftar.

[TEMPEL DAFTAR KEYWORD]

Kalimat terakhir mencegah AI mengarang keyword. Tetap cek SERP untuk cluster yang meragukan, karena AI nggak tahu halaman apa yang sedang ranking hari ini. Mau eksplorasi pemakaian AI lain untuk kerja marketing? Baca AI untuk marketing 2026.

Contoh kasus: cara riset keyword untuk toko skincare lokal

Supaya lebih konkret, kita pakai contoh toko skincare lokal fiktif yang menjual serum niacinamide, sunscreen, dan facial wash untuk kulit berminyak. Target pasarnya perempuan usia 18-30.

Produk skincare di atas meja sebagai contoh kasus riset keyword toko skincare lokal
Foto: Valeriia Miller via Unsplash

1. Seed keyword: “serum niacinamide”, “sunscreen kulit berminyak”, “bekas jerawat”, “bruntusan”.

2. Autocomplete dan PAA: dari seed “serum niacinamide”, autocomplete biasanya memunculkan variasi seperti “untuk usia berapa”, “dipakai pagi atau malam”, “boleh dicampur dengan”, sampai “untuk bekas jerawat”. Kotak PAA menambah pertanyaan seperti “apakah niacinamide boleh dipakai setiap hari”. Catat apa yang benar-benar muncul di perangkatmu.

3. Google Trends: bandingkan “sunscreen” vs “sunblock” vs “tabir surya” untuk Indonesia, 5 tahun terakhir. Istilah tertinggi dipakai di judul, sisanya jadi variasi. Cek juga lonjakan musiman untuk “paket skincare” dan “hampers skincare”.

4. Search Console: misalnya artikel lama tentang “urutan skincare pagi” ternyata dapat banyak impresi untuk query “urutan skincare untuk kulit berminyak” di posisi rata-rata belasan. Itu sinyal untuk artikel baru.

5. Keyword Planner: tempel semua hasil panen, catat estimasi volume dan bid. Keyword dengan kata “terbaik”, “rekomendasi”, dan “harga” biasanya punya bid lebih tinggi karena dekat ke pembelian.

6. TikTok dan marketplace: di TikTok, kata seperti “review jujur”, “racun”, dan “before after” sering melekat pada pencarian skincare. Di marketplace, saran cenderung menyebut ukuran ml, “BPOM”, dan “original”.

7. Clustering: semua keyword dikelompokkan dengan prompt AI di atas, lalu dicek manual. Hasilnya jadi 10 topik berikut.

# Topik konten Intent Format & kanal
1 Serum niacinamide dipakai pagi atau malam? Plus urutan pakainya Informational Artikel blog + video TikTok 30 detik
2 Niacinamide boleh dicampur apa saja (dan apa yang sebaiknya jangan) Informational Artikel + carousel Instagram
3 Urutan skincare untuk kulit berminyak, pagi dan malam Informational Update artikel lama (dari data GSC)
4 Cara memudarkan bekas jerawat: realistisnya butuh berapa lama Informational Artikel + seri TikTok progres
5 Bruntusan: penyebab dan cara mengatasinya Informational Artikel blog pilar
6 Sunscreen untuk kulit berminyak yang nggak bikin kusam Commercial Artikel rekomendasi + review TikTok
7 Review jujur serum niacinamide lokal: before after 4 minggu Commercial Video TikTok + Reels
8 Cara cek skincare BPOM dan original sebelum beli online Commercial Artikel + konten edukasi di toko marketplace
9 Paket skincare kulit berminyak untuk promo 12.12 Transactional, musiman Listing marketplace + iklan Search & TikTok
10 Ide hampers skincare untuk Lebaran Commercial, musiman Artikel + carousel, tayang beberapa minggu sebelum Ramadan 2027

Perhatikan komposisinya: 5 topik informational untuk menarik trafik dan membangun kepercayaan, 3 commercial untuk orang yang sedang membandingkan, dan 2 topik musiman yang dekat ke penjualan.

Dari daftar keyword ke content plan

Daftar topik baru berguna kalau masuk kalender. Langkah terakhirnya:

  • Prioritaskan berdasarkan kombinasi: dekat ke produk, volume, dan tingkat persaingan. Topik musiman diprioritaskan berdasarkan tanggal puncaknya.
  • Satu topik, banyak format. Satu artikel blog bisa dipecah jadi 3 sampai 5 konten sosmed dan satu set kata kunci iklan.
  • Jadwalkan dan ukur. Pasang UTM di link yang kamu bagikan di sosmed lewat UTM Builder supaya tahu topik mana yang menghasilkan trafik dan penjualan.

Struktur lengkap menyusun kalender konten ada di cara membuat content plan. Kalau ingin langsung praktik, masukkan 10 topik hasil riset ke Content Planner gratis Remarketing.

⚠️ Kesalahan umum pemula: mengejar keyword bervolume besar yang didominasi brand raksasa, bikin dua artikel untuk intent yang sama (saling bersaing), dan lupa mengecek ulang. Ulangi riset keyword setiap 3 bulan, karena tren dan bahasa pembeli terus berubah.

FAQ

Apakah cara riset keyword bisa benar-benar gratis?

Bisa. Google autocomplete, People also ask, Google Trends, Search Console, Keyword Planner, TikTok search, dan search bar marketplace semuanya gratis. Tools berbayar seperti Ahrefs atau Semrush hanya mempercepat.

Berapa volume pencarian minimal yang layak dibuat konten?

Nggak ada angka pasti. Untuk niche spesifik, keyword dengan volume kecil tapi intent jelas sering lebih menguntungkan daripada keyword besar yang terlalu umum.

Apakah Keyword Planner harus pasang iklan dulu?

Nggak wajib menjalankan kampanye. Kamu perlu akun Google Ads dengan setup akun yang lengkap, termasuk informasi penagihan, untuk mengakses fitur ide keyword. Angka volumenya berupa estimasi.

Bedanya riset keyword untuk blog, sosmed, dan iklan apa?

Prinsipnya sama, sumbernya beda bobot. Blog paling banyak memakai data Google (autocomplete, PAA, GSC). Sosmed lebih mengandalkan TikTok search dan Creator Search Insights. Iklan memakai Keyword Planner untuk bid dan keyword transaksional, plus Keyword Insights TikTok untuk naskah.

Seberapa sering riset keyword perlu diulang?

Idealnya setiap 3 bulan, ditambah sebelum musim besar seperti Ramadan dan 12.12. Cek Search Console tiap bulan untuk menemukan query baru yang mulai dapat impresi.

Kesimpulan

Cara riset keyword untuk pemula nggak harus rumit atau mahal. Mulai dari intent, tentukan seed keyword dari masalah pelanggan, panen ide dari autocomplete, People also ask, TikTok, dan marketplace, lalu ukur dengan Google Trends, Search Console, dan Keyword Planner. Kelompokkan jadi cluster, dan ubah tiap cluster jadi satu konten utama di content plan. Satu sesi riset yang rapi, seperti contoh toko skincare tadi, cukup untuk 10 topik beberapa bulan ke depan.

🗓️ CONTENT PLANNER GRATIS

Udah punya 10 topik? Langsung jadwalkan.

Masukkan hasil riset keyword-mu ke Content Planner Remarketing: atur topik, format, kanal, dan tanggal tayang dalam satu tempat.

Buka Content Planner →

Gratis dipakai · cocok untuk blog, sosmed, dan iklan

Sumber & referensi

  1. SEO Starter Guide: The Basics, Google Search Central
  2. A Guide to Google Search Ranking Systems, Google Search Central
  3. How Google autocomplete predictions work, Google Search Help
  4. FAQ about Google Trends data, Google Trends Help
  5. Performance report (Search results), Search Console Help
  6. Use Keyword Planner, Google Ads Help
  7. Menemukan Kata Kunci Kampanye dengan Keyword Planner, Google Ads
  8. 1 dari 2 pencarian kategori kecantikan menyebut nama brand, Blog Google Indonesia
  9. What Is Search Intent? How to Identify It & Optimize for It, Semrush Blog
  10. Long-tail Keywords: What They Are and How to Get Search Traffic From Them, Ahrefs Blog
  11. How To Do Keyword Clustering the Easy Way, Ahrefs Blog
  12. Free Keyword Research Tool for SEO, Backlinko
  13. Get inspired with Creator Search Insights, TikTok Newsroom
  14. TikTok Provides New Insights into Top Performing Ad Copy via Keyword Insights, Social Media Today
  15. Google exec suggests Instagram and TikTok are eating into Google’s core products, Search and Maps, TechCrunch
  16. Google Makin Ditinggal, Gen Z Sudah Pindah ke Penggantinya, CNBC Indonesia
  17. Terungkap! Ini yang Banyak Dicari Warga RI di Google Selama Ramadan, CNBC Indonesia
  18. Ini perilaku masyarakat Indonesia jelang Ramadan berdasarkan survei Google, Kontan

Foto sampul: Myriam Jessier via Unsplash. Data dicek tim Remarketing, 4 November 2026.

Share this post :

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Threads
X

Support System-nya Digital Marketing Se-Indonesia agar #JadiTerusRelevan dengan kebutuhan Industri terkini.

Copyright © 2025 Remarketing. All rights reserved

#JadiTerusRelevan dengan newsletter kami

Support System-nya Digital Marketing Se-Indonesia agar #JadiTerusRelevan dengan kebutuhan Industri terkini.

Copyright © 2025 Remarketing. All rights reserved

Article
// Lanjut baca

Artikel lainnya

Content Strategy
Brand Breakdown On Running: Strategi di Balik Rp 65 Triliun, dan Versi Lokal yang Bisa Kamu Pakai (2026)
Fundamental Digital Marketing
Skill Iklan Digital yang Dicari 2027: Dari Operator Tombol Jadi Arsitek Sistem
Fundamental Digital Marketing
Panduan Google Analytics 4 (GA4) untuk Pemula: Setup, Baca Data, Sampai Optimasi