Ada satu hal yang serem tapi jarang diomongin di dunia jualan online: ada produk yang keliatannya untung, padahal sebenarnya rugi. Bukan karena nggak laku, tapi karena marginnya terlalu tipis sampai kegerus habis sama biaya-biaya yang numpuk. Biar kamu nggak jadi korban margin tipis, yuk kita bahas soal titik impas atau break-even, dan gimana caranya tahu kapan sebuah produk sebenarnya bikin rugi.
Margin tipis itu diam-diam berbahaya
Produk margin tipis itu bahaya karena masih keliatan hidup. Orderan masuk, produk kejual, tokomu keliatan aktif. Tapi begitu semua biaya dijumlahin, yaitu biaya admin, biaya proses, biaya program, modal, ongkir yang kamu tanggung, sampai biaya iklan, yang tersisa nyaris nol atau malah minus. Kamu kerja keras tiap hari, tapi kantongmu nggak nambah. Yang lebih bahaya, makin banyak kamu jual produk kayak gini, makin cepat kamu rugi.
Kalau nambah pesanan malah bikin rugi lebih cepat, berarti masalahnya bukan di volume, tapi di margin.
Kenalan sama titik impas (break-even)
Titik impas itu batas di mana kamu nggak untung dan nggak rugi. Di marketplace, konsep ini penting banget karena tiap produk punya potongan yang beda. Yang perlu kamu tahu:
- ROAS minimal biar nggak rugi. Kalau kamu pakai iklan, ada angka ROAS minimal yang bikin kamu balik modal. Di bawah itu tekor, di atas itu baru cuan.
- Margin bersih setelah semua potongan. Ini bukan selisih harga sama modal, tapi angka setelah biaya marketplace dan iklan.
- Kontribusi per pesanan. Berapa sisa uang tiap pesanan buat nutup biaya tetap dan ngasih untung.
Tanpa tahu titik impasmu, kamu nggak akan pernah bisa mastiin apakah sebuah produk beneran layak dilanjutin atau enggak.
Contoh produk yang keliatan untung tapi rugi
Misal kamu jual powerbank Rp159.000 dengan modal Rp120.000. Kelihatannya untung Rp39.000. Tapi habis dipotong komisi marketplace sekitar 8 persen, laba bersihmu turun ke sekitar Rp26.000. Sekarang tambahin biaya iklan per pesanan misal Rp8.000, sisanya tinggal sekitar Rp18.000. Lalu kalau kamu ikut gratis ongkir dan nombok sebagian, angkanya makin nyusut. Di titik tertentu, produk yang tadinya “untung Rp39.000” itu bisa jadi cuma untung receh, atau bahkan minus di skenario terburuk. Semua ini nggak keliatan kalau nggak dihitung.
Cara ngeceknya biar kamu tenang
Kabar baiknya, ini gampang dicek. Pakai Kalkulator Biaya Admin Marketplace gratis dari Remarketing buat lihat laba bersih tiap produk setelah semua potongan. Terus, buat memperhitungkan iklan, cek juga break-even iklanmu di Calculator ROAS. Dengan dua angka ini, kamu bisa tahu produk mana yang marginnya masih aman, mana yang tipis dan perlu naik harga atau tekan modal, dan mana yang sebaiknya berhenti diiklanin karena tiap iklan malah nambah rugi.
Kalau produkmu banyak, dashboard-nya bisa nandain produk yang marginnya jatuh di bawah target dan yang labanya kegerus, jadi kamu langsung tahu mana yang perlu diperhatikan tanpa ngecek satu-satu.
Apa yang bisa kamu lakuin kalau ketemu produk margin tipis
Kalau nemu produk yang marginnya kritis, kamu punya beberapa pilihan: naikin harga jual pelan-pelan, tekan modal lewat nego supplier atau bundling, kurangi subsidi ongkir, atau pindahin ke marketplace yang tarifnya lebih ramah buat kategori itu. Yang penting jangan didiemin. Produk margin tipis yang dibiarkan jalan terus itu kayak keran bocor, kecil tapi lama-lama nguras.
Penutupnya
Ngerti break-even dan margin itu yang misahin seller yang cuma sibuk sama seller yang beneran tumbuh. Begitu kamu tahu angka batasnya, kamu bisa ambil keputusan tanpa ragu, mana yang di-scale dan mana yang distop. Mulai dari ngecek produk-produkmu di kalkulator biaya admin marketplace, dan pantau kesehatan margin semuanya di dashboard-nya.
Sumber & referensi
- Pusat Edukasi Penjual Shopee
- Struktur biaya marketplace 2026, RekapCepat.id






