Strategi Marketing World Cup 2026: 10 Brand yang Menang Tanpa Bayar Sponsor FIFA

Strategi Marketing World Cup 2026: 10 Brand yang Menang Tanpa Bayar Sponsor FIFA

Seperti biasa, turnamen ini bukan cuma perang di lapangan. Di belakang layar, brand-brand juga saling adu strategi buat nyuri perhatian miliaran mata. Menariknya, yang paling nempel di kepala orang justru sering bukan sponsor resmi yang bayar mahal ke FIFA.

“You don’t need to buy the stadium. You just need to own the conversation.”

Nah, Remarketing udah riset 10 campaign paling pinter di momen ini. Buat tiap brand, kita bahas apa yang mereka lakuin dan learning konkret yang bisa kamu contek. Semua ada source-nya di bawah, lengkap sampai ke video dan artikelnya. Yuk kita bedah.


1. British Airways — Taruhan Receh yang Viral

Campaign: Menjelang laga Inggris vs Norwegia, maskapai Norwegian nantangin British Airways taruhan di media sosial. Aturannya simpel: yang timnya kalah harus ganti foto profil Instagram jadi logo lawan selama 24 jam. BA nyahut pede, “Don’t make bets you can’t win.” Inggris menang, dan Norwegian pun nepatin janji — ganti foto profil jadi branding BA seharian, plus posting ucapan selamat yang sportif.

Hasilnya? Jutaan impression organik lintas Instagram, X, dan pemberitaan media. Semua itu dengan biaya produksi nyaris nol.

Learning buat marketers: Real-time marketing yang terasa spontan dan manusiawi ngalahin iklan korporat yang kaku. Kamu nggak butuh budget iklan gede buat dapet reach gede. Yang kamu butuh cuma kecepatan, keberanian, dan sedikit selera humor.

Lihat campaign-nya: Campaign Live · TravelWires · Gulf News


2. DoorDash x Zlatan — Ngerayain yang Kalah, Bukan yang Menang

Campaign: Sementara semua brand ngucapin selamat ke tim pemenang, DoorDash ngambil angle kebalikannya. Mereka gandeng Zlatan Ibrahimovic buat nge-roast setiap tim yang tersingkir, satu per satu. Contohnya pas Amerika kalah: “U.S. is out, so your American dream is over. Next time, call it futbol, not soccer, okay?” Ada juga buat Jerman, Brasil, Meksiko, Portugal, sampai Swedia (negaranya sendiri). Kontennya tayang episodik di Instagram tiap ada tim gugur, dengan tagar #PickTheChamp.

Learning buat marketers: Kadang cara paling gampang buat stand out adalah ngelakuin kebalikan dari yang semua orang lakuin. Selain itu, pilih talent yang persona-nya emang udah nyambung sama pesan brand — arogansi khas Zlatan itu justru jadi fitur, bukan bug. Format episodik juga bikin audiens nungguin konten berikutnya.

“Everyone congratulates the winners. The smart brand owns the heartbreak.”

Lihat campaign-nya: YouTube — Zlatan roasts eliminated teams · Instagram Reel DoorDash · Washington Examiner · Thick Accent


3. IKEA – “Messi Mandiin Yamal” — Newsjacking Paling Rebutan

Campaign: Ada foto legendaris tahun 2007: Messi muda lagi mandiin bayi Lamine Yamal buat kalender amal UNICEF. Nah, jelang final World Cup 2026 yang justru mempertemukan mereka berdua (Spanyol vs Argentina), foto ini meledak lagi jadi viral sebagai simbol “passing the torch”. Puluhan brand langsung rebutan nge-newsjack momen ini.

Yang paling alus dan nyambung adalah IKEA, dengan caption emosional “One day you bathe them, the next day…” — pas banget sama produk popok bayinya. Brand lain juga ikutan: DAZN Portugal bikin ulang adegannya dengan Yamal versi 19 tahun plus trofi World Cup, Coca-Cola Singapore ganti Messi & bayi Yamal jadi dua kaleng negara sambil nanya “Who are you backing?”, Domino’s UK update logonya ngerayain kemenangan Spanyol, dan KFC South Africa malah pakai momen ini buat nyindir McDonald’s.

Learning buat marketers: Momen kultural yang lagi meledak itu peluang emas — tapi cuma buat brand yang gerak cepat DAN punya angle relevan. Huggies menang bukan karena paling kenceng, tapi karena fotonya nyambung banget sama produknya (mandiin bayi = popok). Jadi, jangan asal ikutan tren; pastiin ada benang merah yang jelas ke brand kamu.

“Newsjacking only works when the moment and your brand actually rhyme.”

Lihat campaign-nya: DesignRush — 5 brand yang tap-in · Forbes — foto UNICEF viral · TODAY — cerita di balik fotonya


4. Levi’s — Pas Ditutupin FIFA, Malah Makin Dilihat

Campaign: Aturan “clean stadium” FIFA melarang logo brand non-sponsor kelihatan di siaran. Alhasil, patch belakang celana Levi’s ditutupin lakban sama FIFA. Tapi justru penutupan itu yang bikin orang penasaran — netizen malah rame ngebahas “brand apa sih yang ditutup?”. Levi’s pun santai nikmatin atensi gratisnya.

Learning buat marketers: Sensor sering kali malah bikin orang makin penasaran (efek Streisand). Larangan atau keterbatasan bisa kamu ubah jadi bahan konten. Intinya, jangan panik pas kena batasan — cari sudut di mana batasan itu jadi ceritanya.

Lihat campaign-nya: Forbes · Entrepreneur · DesignRush


5. Heinz — Nyindir Aturan FIFA dengan Elegan

Campaign: Senasib sama Levi’s, branding Heinz juga kena tutup lakban gara-gara aturan “clean stadium”. Bedanya, Heinz nggak diam. Mereka bikin konten yang nyindir kebijakan itu dengan humor, sekaligus nunjukin solidaritas ke brand lain yang senasib. Reaksinya cepat, witty, dan kena.

Learning buat marketers: Newsjacking itu soal kecepatan dan tone. Ketika ada momen kultural (bahkan momen yang “ngerugiin” brand kamu), respons yang cerdas dan berhumor bisa ngubah situasi jadi menang. Solidaritas antar-brand juga bikin audiens makin sayang.

Lihat campaign-nya: Yahoo Sports · Forbes · Entrepreneur


6. John Lewis — Tanda Tangani Pemain Bernama “John Lewis”

Campaign: Ini salah satu yang paling alus. Ritel Inggris John Lewis benar-benar merekrut seorang pesepakbola sungguhan yang kebetulan bernama John Lewis buat jadi bintang iklannya. Permainan kata yang sederhana, tapi jenius — nama brand dan nama pemain jadi satu punchline.

Learning buat marketers: Ide besar nggak selalu mahal. Kadang aset paling kuat udah ada di depan mata — dalam kasus ini, nama brand kamu sendiri. Casting kreatif dan wordplay bisa bikin campaign yang murah tapi nempel dan gampang diomongin.

Lihat campaign-nya: Famous Campaigns


7. FanDuel — Syal Dua Sisi buat Fans yang “Selingkuh”

Campaign: FanDuel Canada nemuin insight menarik: 43% fans Kanada ngedukung lebih dari satu tim. Dari situ, mereka bikin syal koleksi dua sisi yang masangin Kanada dengan tiap negara peserta lain. Jadi kamu bisa dukung Kanada dan tim jagoan keduamu dalam satu syal.

Learning buat marketers: Merch yang lahir dari cultural insight lebih kuat daripada merch yang cuma nempelin logo. Ketika produk kamu ngomongin kebiasaan asli audiens, orang bakal makai (dan pamerin) dengan bangga. Itu earned media yang bisa dipakai.

Lihat campaign-nya: LBBOnline · Strategy · Muse by Clios


8. Rexona — Beli “Sponsor Ketiak” yang Nggak Kepikiran Siapa-siapa

Campaign: Rexona ngambil ruang iklan yang belum kepikiran brand lain: area ketiak di jersey wasit World Cup. Sebagai brand deodoran, penempatannya relevan banget dan langsung kelihatan tiap wasit angkat tangan kasih kartu. Rexona juga sempat mengaitkan diri dengan superfan DR Kongo, Lumumba Vea, yang terkenal karena pose berdiri sambil angkat tangan.

Strategi Marketing World Cup 2026: 10 Brand yang Menang Tanpa Bayar Sponsor FIFA

Learning buat marketers: Cari ownable placement — ruang yang relevan sama brand kamu tapi belum diklaim siapa pun. Kreativitas media placement kadang lebih berdampak daripada besarnya budget. Yang penting, penempatannya masuk akal sama produk, bukan asal nampang.

Lihat campaign-nya: Famous Campaigns · Footy Headlines


9. Marmite — Rela Ganti Nama Jadi “WeMite”

Campaign: Marmite sementara waktu ngubah nama produknya jadi “WeMite” buat ngedukung timnas Inggris. Mereka bahkan bikin beberapa versi jar sesuai tingkat optimisme fans. Sebuah taruhan branding yang berani, mempertaruhkan nama ikonik demi relevansi kultural.

Learning buat marketers: Berani “mengorbankan” elemen brand secara temporer bisa jadi statement yang kuat, asalkan tetap on-brand. Kemasan pun bisa jadi media. Selama eksekusinya konsisten sama karakter brand (Marmite yang playful dan divisive), risikonya kebayar.

Lihat campaign-nya: Famous Campaigns · Creative Salon · Campaigns of the World


10. Kraft — Dengerin Netizen, Langsung Bikin Produk

Campaign: Selama turnamen, turis World Cup di Amerika viral karena “nge-chug” botol saus ranch, dan sempat ada kebingungan soal aturan TSA buat bawa cairan di pesawat. Kraft gerak cepat: mereka rilis TSA-friendly ranch packets — kemasan ranch ukuran travel yang aman dibawa terbang. Respons real-time yang lahir langsung dari percakapan netizen.

Learning buat marketers: Social listening itu tambang emas. Ketika audiens lagi ngobrolin sesuatu yang nyerempet produk kamu, kecepatan respons bisa ngubah tren organik jadi peluncuran produk yang relevan. Dengerin dulu, baru bikin.

Lihat campaign-nya: Fortune · Dexerto · Food Network


Bonus: Café Bustelo — Budaya Latin Jadi Tato Wajah

Campaign: Café Bustelo bikin edisi terbatas “Game Face” — kaleng kopi kolektor plus kit tato wajah yang ngerayain budaya suporter Latin Amerika. Sebuah cara ngajak fans buat ikut jadi bagian dari campaign, bukan cuma nonton.

Learning buat marketers: Otentisitas kultural menang. Ketika brand ngerayain identitas audiensnya dengan tulus dan ngasih cara buat berpartisipasi, koneksinya jauh lebih dalam.

Lihat campaign-nya: Marketing Dive · PR Newswire · Situs resmi Café Bustelo


Rangkuman: Pola Besar yang Bisa Kamu Contek

Kalau ditarik benang merahnya, sepuluh brand di atas menang karena hal yang sama. Ini recap-nya:

BrandTaktikLearning Inti
British AirwaysTaruhan sosial vs kompetitorReal-time, spontan, human
DoorDash x ZlatanRoast tim yang kalahAngle kontrarian + talent yang pas
IKEANewsjackingSelalu sensitif untuk capture moment
Levi’sNikmatin sensor FIFABatasan jadi konten
HeinzNyindir aturan dengan humorNewsjacking yang cepat & witty
John LewisRekrut pemain senamaWordplay murah tapi jenius
FanDuelSyal dua sisiMerch dari cultural insight
RexonaSponsor ketiak wasitOwnable placement yang relevan
MarmiteRebrand jadi WeMiteBerani berkorban demi relevansi
KraftRanch packet TSA-friendlySocial listening jadi produk

Intinya, benang merahnya cuma tiga: be fast, be relevant, be brave. Kamu nggak harus jadi sponsor resmi atau punya budget miliaran. Yang menang adalah brand yang paling jeli baca momen dan paling cepat gerak.

“The best World Cup marketing didn’t come from the biggest budgets. It came from the sharpest cultural instincts.”

Jadi, momen besar apa yang lagi deket sama audiens kamu? Coba pikirin satu angle yang cuma brand kamu yang bisa ngambil. Dari situ, kamu udah setengah jalan.


Sumber Lengkap

British Airways

DoorDash x Zlatan

IKEA “Assemble the World”

Levi’s & Heinz (aturan “clean stadium” FIFA)

John Lewis

FanDuel

Rexona

Marmite “WeMite”

Kraft

Café Bustelo (bonus)

Share this post :

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Threads
X

Support System-nya Digital Marketing Se-Indonesia agar #JadiTerusRelevan dengan kebutuhan Industri terkini.

Copyright © 2025 Remarketing. All rights reserved

#JadiTerusRelevan dengan newsletter kami

Support System-nya Digital Marketing Se-Indonesia agar #JadiTerusRelevan dengan kebutuhan Industri terkini.

Copyright © 2025 Remarketing. All rights reserved

// Lanjut baca

Artikel lainnya

Fundamental Digital Marketing
Cara Bikin Content Pillar, Content Plan, dan Basic Reporting. Cocok Untuk Yang Baru Belajar Digital Marketing.
Customer Relationship Management (CRM) Marketing
Cara Menggunakan WhatsApp untuk Meningkatkan Penjualan Bisnis 😍
Marketing Strategy
Funnel Marketing: Kita yang Pusing, Customer sih Nggak Peduli 🤔