Pernah ngerasain ini nggak? Notifikasi pesanan bunyi terus, orderan rame, produk ludes, rasanya kayak lagi di puncak. Tapi giliran dana marketplace cair ke rekening, kamu malah bengong. Kok segini doang? Padahal kemarin jualannya banyak banget. Tenang, kamu nggak sendirian, dan produkmu belum tentu salah. Yang sering kejadian itu simpel: omzet gede beda jauh sama laba bersih, dan yang bikin selisihnya jauh itu potongan-potongan yang sering nggak keitung.
Omzet itu yang keliatan rame. Laba bersih itu yang beneran masuk kantong.
Uangmu dipotong di beberapa tempat sebelum nyampe saldo
Tiap satu pesanan selesai, marketplace nggak langsung ngasih kamu full harga jual. Ada beberapa biaya yang dipotong duluan:
- Biaya administrasi (komisi). Ini persentase dari harga jual setelah diskon. Besarnya beda-beda tergantung kategori produk.
- Biaya layanan program. Kalau kamu ikut program kayak Gratis Ongkir XTRA, voucher, atau cashback, biasanya ada potongan tambahan.
- Biaya proses per pesanan. Nominal tetap tiap transaksi selesai. Di Shopee misalnya sekitar Rp1.250 per pesanan.
Itu baru dari sisi marketplace. Belum ditambah dua hal yang sering kelupaan: modal produk dan ongkir yang kamu subsidi sendiri. Marketplace nggak motong modal kamu, tapi modal jelas ngurangin laba. Begitu juga kalau kamu nombokin ongkir biar keliatan “gratis” ke pembeli.
Coba lihat contohnya biar kebayang
Misal kamu jual baju Rp100.000, kategori Fashion di Shopee. Biaya admin kategori ini kira-kira 10 persen, jadi Rp10.000. Ditambah biaya proses Rp1.250. Total potongan marketplace Rp11.250. Uang yang masuk ke saldo tinggal Rp88.750. Kalau modal bajunya Rp60.000, laba bersihmu cuma Rp28.750 per pesanan. Padahal di kepala mungkin kamu ngerasa untungnya Rp40.000, karena Rp100.000 dikurang modal Rp60.000. Selisih Rp11.250 itu yang sering bikin kaget di akhir bulan kalau dikali puluhan atau ratusan pesanan.
Nah, bayangin kalau kamu punya banyak produk dengan margin yang beda-beda. Ada yang sehat, ada yang ternyata tipis banget, bahkan ada yang diam-diam rugi karena kategorinya kena tarif tinggi plus kamu nombok ongkir. Tanpa dihitung satu-satu, semua keliatan sama saja padahal enggak.
Solusinya bukan berhenti jualan, tapi mulai ngitung
Kabar baiknya, semua ini bisa dilihat dari awal, sebelum kamu kaget di laporan. Kuncinya cuma satu: hitung laba bersih beneran sebelum pasang harga, bukan setelahnya. Biar nggak ribet nyari rumus, tinggal pakai Kalkulator Biaya Admin Marketplace gratis dari Remarketing. Masukin harga jual, modal, dan ongkir yang kamu tanggung, terus langsung keliatan berapa dipotong marketplace dan berapa yang benar-benar kamu terima. Rate-nya udah ngikutin struktur biaya 2026 dan bisa kamu sesuaikan sama tarif di dashboard seller-mu.
Dari situ kamu bisa tahu produk mana yang beneran cuan, produk mana yang perlu naik harga, dan produk mana yang mungkin lebih untung dijual di marketplace lain. Semua jelas dalam hitungan detik, bukan tebak-tebakan lagi.
Yang penting diinget
Jualan rame itu prestasi, jangan sampai ketutup sama rasa bingung di akhir bulan. Begitu kamu ngerti ke mana perginya uang di tiap pesanan, kamu bisa ambil keputusan yang lebih tenang: mana yang di-scale, mana yang diperbaiki harganya, mana yang cukup dijadiin pelengkap. Coba mulai dari satu produk andalanmu, hitung di kalkulatornya, terus lihat sendiri angkanya. Biasanya abis itu banyak yang bilang, “oh pantesan.”
Mau langsung praktik? Buka kalkulator biaya admin marketplace dan cek produk pertamamu sekarang. Kalau produkmu udah banyak dan pengen dipantau rapi dalam satu tempat, intip juga contoh dashboard-nya.
Sumber & referensi
- Pusat Edukasi Penjual Shopee soal struktur biaya penjual
- Rangkuman tarif marketplace 2026, RekapCepat.id






