Ada dua tipe campaign yang sering bikin tim marketing frustrasi dengan cara yang berbeda. Tipe pertama: campaign branding-nya rame, engagement tinggi, banyak yang bahas — tapi begitu dicek angka sales, flat aja. Tipe kedua: campaign performance-nya closing terus, ROAS bagus — tapi brand-nya nggak ada yang inget sebulan kemudian.
Dua-duanya sering dianggap masalah budget atau masalah kreatif. Padahal akar masalahnya sama: communication planning-nya cuma milih salah satu peran, padahal butuh dua-duanya jalan bareng.
Generating Demand dan Capturing Demand Itu Dua Pekerjaan Beda
Generating demand kerjanya bikin orang yang tadinya nggak lagi mikirin kategori produk kamu, jadi mulai tertarik dan penasaran. Capturing demand kerjanya nangkep orang yang udah punya niat, terus dorong mereka buat bertindak sekarang juga. Masalahnya, banyak communication planning cuma dirancang buat salah satu, terus berharap yang satunya keurus sendiri.
Consumer journey sekarang juga makin nggak linear. Orang bisa lompat dari lihat konten hiburan, ke niat beli, balik lagi cari-cari referensi, baru akhirnya checkout — nggak ngikutin funnel rapi dari awareness ke consideration ke conversion kayak di buku teks. Communication planning yang cuma nyiapin satu jalur bakal kehilangan orang di titik lompatan itu.
Cara Nyeimbangin Brand Building dan Conversion
1. Tentuin dulu peran tiap channel, jangan minta semua channel closing. Nggak semua titik kontak harus punya CTA “beli sekarang.” Sebagian tugasnya bikin orang familiar dan percaya duluan, sebagian lagi tugasnya nangkep niat yang udah terbentuk. Masalah biasanya muncul kalau semua channel dipaksa punya target closing yang sama.
2. Bikin jangka panjang dan jangka pendek saling ngasih makan, bukan rebutan budget. Brand building yang jalan terus bikin cost buat capturing demand makin lama makin murah, karena orang udah lebih gampang percaya. Sebaliknya, momen conversion yang berhasil bisa dipakai lagi jadi bukti sosial buat brand campaign berikutnya.
3. Ukur dua metrik yang beda, jangan pakai satu metrik buat semua. Brand campaign nggak fair dinilai pakai ROAS langsung, dan performance campaign nggak fair dinilai pakai brand recall. Masing-masing butuh metrik yang cocok sama perannya, biar evaluasinya nggak bikin salah satu terus-terusan dianggap “nggak jalan.”
4. Desain titik transisi antara dua peran itu. Titik paling sering bocor itu justru di antara “orang udah tertarik” dan “orang siap bertindak.” Communication planning yang bagus punya jembatan jelas di titik itu, bukan cuma ngandelin orang nyariin sendiri jalan ke checkout.
Belajar Langsung dari yang Kerjaannya Nyusun Strategi Buat Balance Ini
Salah satu sesi di program Remarketing × We/Strat ngebahas ini secara khusus: gimana nyusun communication planning yang bisa bangun ketertarikan ke brand sekaligus dorong audience buat bertindak, lengkap sama cara ngukur dan nyeimbangin dua kebutuhan itu.
Sesi “Build & Capture Demand” ini dibawain langsung sama Indra Permadi, Head of Strategy Good People Network. Ini cuma satu dari 6x Live Class di program Remarketing × We/Strat. Ada juga sesi soal cara bedah brief biar nemuin masalah yang beneran, cara ubah insight jadi strategi yang bisa dieksekusi, cara presentasiin deck strategi biar klien beneran yakin, sampai cara pakai AI buat mempertajam creative direction tanpa kehilangan sense strategis kamu sendiri. Plus 4 Video Learning eksklusif soal tools, mindset, dan cara mikir strategist di lapangan. Total 10 materi, semuanya dibawain praktisi yang beneran ngerjain ini tiap hari.
Kenalan Sama Semua Praktisinya
Ini bukan kelas satu orang. Ada 14 senior leader strategy dari agency dan brand ternama yang gantian ngajar sepanjang program:
Brand yang diinget dan sales yang jalan bukan dua hal yang harus dipilih salah satu. Keduanya nyambung lewat communication planning yang dirancang buat ngasih makan satu sama lain, bukan lewat campaign yang dipaksa jadi jago di dua-duanya sekaligus.


