// Report & Benchmark

Tren TikTok 2026: Insight Report TikTok Next

TikTok 2026 17 halaman PDF Login dulu buat download
Tren TikTok 2026: Insight Report TikTok Next

TikTok baru aja rilis report tahunan mereka, TikTok Next 2026. Report ini ngebahas tren TikTok 2026 yang bakal ngebentuk perilaku user di platform tersebut sepanjang tahun depan.

Tema besarnya tahun ini adalah “Irreplaceable Instinct”. Artinya, hal-hal yang nggak bisa digantikan teknologi: koneksi, rasa penasaran, dan kehadiran yang nyata, meski kadang berantakan.

Buat kamu yang kerja di dunia marketing, artikel ini bakal ngebahas isi report-nya secara ringkas. Selain itu, kita juga kasih ide implementasi konkret buat marketers Indonesia.

Kenapa Tren TikTok 2026 Ini Penting Dipantau

Cassie Taylor, Global Head of Platform & Trends Marketing TikTok, nulis di bagian foreword report ini. Menurutnya, budaya sekarang bergerak lebih cepat dan lebih berlapis dari sebelumnya.

TikTok pakai metodologi bernama “Speeds of Culture”. Metodologi ini punya tiga level: Trend Moments (viral sesaat), Trend Signals (pola perilaku baru yang muncul), dan Trend Forces (perubahan perilaku jangka panjang yang besar).

Tahun ini, TikTok pakai tools AI mereka sendiri untuk menganalisis data tren secara real-time. Tools itu antara lain TikTok One Insights Spotlight, TikTok Market Scope, TikTok One Content Suite, dan Symphony Creative Studio.

Hasil analisis itu dirangkum jadi tiga trend signal utama. Yuk kita bahas satu-satu.

Trend Signal 1: Reali-TEA

Sinyal pertama dari tren TikTok 2026 ini disebut Reali-TEA. Intinya, fantasi mulai memudar. Audiens ingin realitas yang lebih jujur dan lebih manusiawi.

Membangun brand yang “manusiawi” bukan cuma soal punya chatbot atau AI avatar. Ini soal mendengarkan, belajar, dan membagikan cerita nyata tentang bagaimana orang benar-benar merasa.

Beberapa hashtag yang lagi naik daun antara lain #ForcedToLockIn, #CultureForMe, #CommentReactStack, dan #SecondAccountFound. Selain itu, ada tiga keyword yang tumbuh pesat: #lockedin (648 ribu post), #hygiene (692 ribu post), dan #joblife (235 ribu post).

Data Menarik di Balik Reali-TEA

Report ini juga kasih beberapa angka penting. Pengguna Millennial dan Gen Z, misalnya, 1,5 kali lebih mungkin mencoba brand baru kalau brand itu punya komunitas yang kuat.

Selain itu, pengguna TikTok 1,6 kali lebih mungkin melakukan repurchase dari brand yang mengajak mereka berinteraksi lewat iklan.

Case Study: Oreo’s TikTok Playground

Salah satu contoh nyata datang dari Oreo. Mereka mengubah akun TikTok-nya jadi semacam clubhouse yang playful, tempat fans ikut ngobrolin tren dan bahkan rumor “cross-brand romance”.

Untuk kolaborasi Oreo x Reese’s, mereka bikin narasi lucu soal dua brand yang “merging” jadi satu, seperti teman dekat. Hasilnya jadi salah satu postingan TikTok berkinerja terbaik kedua Oreo sepanjang 2025, dengan kenaikan shares sebesar 12%.

Apa Artinya Buat Marketers Indonesia?

Poin kuncinya, brand harus fleksibel mengikuti “tea” atau obrolan budaya yang lagi berkembang. Gunakan tools social listening untuk memantau bahasa dan estetika yang berubah cepat.

Coba juga sesekali balas komentar pakai foto ekspresi, bukan cuma teks. Ini lagi jadi tren baru yang disebut “comment react stack” dan terbukti meningkatkan engagement.

Trend Signal 2: Curiosity Detours

Sinyal kedua tren TikTok 2026 disebut Curiosity Detours. Di 2026, rasa penasaran jadi mata uang baru. Audiens semakin senang menjelajahi rabbit hole baru lewat pintu-pintu penemuan yang tak terduga.

Dulu, orang cari sesuatu di internet dengan tujuan spesifik. Sekarang, pencarian di TikTok lebih mirip jalan-jalan tanpa rencana pasti. Orang datang untuk satu hal, tapi pulang dengan banyak hal baru lewat #datingtips, #cookinghacks, dan #storytimes.

Angka-Angka Penting Curiosity Detours

Dua dari tiga pencari di TikTok bilang alasan utama pakai TikTok sebagai search platform adalah karena mereka menemukan hal-hal berguna di luar yang mereka cari.

Bahkan, ada miliaran pencarian yang terjadi di TikTok setiap hari. Angka ini naik lebih dari 40% dibanding tahun lalu. Selain itu, 1 dari 4 pengguna TikTok mulai mencari sesuatu dalam 30 detik pertama setelah membuka aplikasi.

Case Study: Duracell dan Koneksi K-Pop

Contoh nyata datang dari Duracell. Lewat TikTok Market Scope, mereka menemukan koneksi tak terduga antara baterai Duracell dan komunitas K-pop, yang butuh baterai buat lightstick idola mereka.

Penemuan ini jadi audiens pertumbuhan baru yang penting buat Duracell. Christina Miller, Chief Social Officer VML EMEA, bilang follower growth Duracell naik 483% di seluruh market, dan K-pop punya andil besar di situ.

Apa Artinya Buat Marketers Indonesia?

Ini bukan soal memperluas daya tarik brand secara asal, tapi soal muncul secara bermakna di ruang-ruang yang mungkin nggak terduga tapi selaras dengan identitas brand kamu.

Coba gunakan TikTok One Content Suite buat menggali lebih dalam bagaimana brand kamu disebut secara organik. Alat ini bisa memunculkan hasil pencarian hingga 44 kali lebih banyak dibanding pencarian manual.

Trend Signal 3: Emotional ROI

Sinyal ketiga tren TikTok 2026 ini disebut Emotional ROI. Di 2026, impuls bakal kalah sama intensi. Konsumen makin menghargai brand yang bisa jelasin alasan sebelum mereka memutuskan beli.

Orang boleh jadi memangkas pengeluaran untuk hal “non-esensial”. Tapi definisi esensial itu sendiri sedang meluas. Bukan lagi soal beli shampo termurah, tapi soal cari shampo yang benar-benar cocok untuk jenis rambut mereka.

Rumus “Why to Buy”

Report ini punya rumus menarik: Why to Buy = 2(E²) + T. E² pertama adalah Expanding Essentials — esensial baru berbasis wellness. E² kedua adalah Evidence Economy — kolom komentar TikTok dipercaya sebagai bukti sosial. T adalah Tastemakers — kreator yang menang lewat storytelling, bukan sekadar angka follower.

Beberapa pergeseran bahasa yang disorot: dari “karena lucu” jadi “karena bikin bahagia”. Dari klaim iklan copy-paste jadi review yang dikumpulkan dari komentar asli pengguna.

Case Study: Audible’s Emotional ROI Moment

Audible jadi contoh bagus soal ini. Mereka bikin postingan organik sederhana, minta rekomendasi buku bintang lima dari komunitas #BookTok.

Kolom komentarnya langsung dibanjiri rekomendasi penuh semangat. Hasilnya, reach Audible naik 376% dibanding rata-rata channel mereka biasanya.

Apa Artinya Buat Marketers Indonesia?

Jangan biarkan tekanan buat “jualan” terlihat terlalu jelas. Konsumen sekarang mendefinisikan ulang apa yang esensial, bukan berdasarkan harga, tapi berdasarkan makna dan rasa memiliki.

Gunakan Symphony Creative Studio atau tools serupa untuk menyesuaikan satu aset kreatif ke berbagai bahasa, format, dan gaya storytelling secara cepat.

Cara Praktis Menerapkan Tren TikTok 2026 di Indonesia

Report ini kasih satu contoh alur kerja konkret di kategori Food & Beverage yang bisa jadi template buat brand Indonesia.

Pertama, mulai dari insight. Identifikasi hashtag yang lagi trending di kategori kamu lewat TikTok Market Scope. Misalnya, di kategori F&B, hashtag #booktok ternyata masuk top 5 trending.

Kedua, lakukan eksplorasi. Cari video yang menyebut brand kamu bersama keyword tren itu lewat TikTok One Content Suite. Dari situ, kamu bisa cari inspirasi atau langsung minta izin pakai konten kreator sebagai iklan.

Ketiga, masuk ke strategi. Generate konsep video baru dalam hitungan menit lewat fitur Text to Video di Symphony Creative Studio. Contohnya, prompt sederhana seperti “suasana dapur nyaman, ada kucing, buku, teh, dan tangan membuka croissant segar” bisa langsung jadi konsep video.

Alur tiga langkah ini — insight, eksplorasi, strategi — bisa dipakai brand Indonesia di kategori apa pun, nggak cuma F&B.

Kesimpulan: Instinct Manusia Tetap Jadi Pembeda

Meski tren TikTok 2026 ini didorong oleh tools AI yang makin canggih, satu pesan utamanya tetap sama: instinct manusia nggak tergantikan.

AI membantu marketers melihat pola dari jutaan konten, komentar, dan pencarian. Tapi makna di baliknya, apa yang orang pedulikan dan kenapa, tetap butuh sudut pandang manusia untuk dipahami.

Buat marketers Indonesia, momentum ini pas banget buat mulai eksperimen. Coba pantau satu sinyal dulu, entah itu Reali-TEA, Curiosity Detours, atau Emotional ROI, lalu uji di satu campaign kecil sebelum diterapkan lebih luas.


Artikel ini merupakan ringkasan dan analisis dari report “TikTok Next 2026: Irreplaceable Instinct” terbitan TikTok.