3 bulan pertama: "cuma" 3.800 follower
Awalnya Rino nge-branding dirinya sebagai praktisi AI di Threads, cuma pakai Gemini buat brainstorm. Satu postingan viral bisa bawa ±500 follower, tapi totalnya baru 3.800 dalam 3 bulan.
Sempat stuck di Februari–Maret, karena dia belum ngerti kalau tiap konten punya life cycle: format yang tadinya jalan, lama-lama turun juga.
AI-nya disuapin "bibit unggul", bukan prompt panjang
Rino ngumpulin postingan yang udah terbukti viral jadi satu swipe file, lalu nyuruh Claude bedah polanya: struktur, hook, sampai gaya bahasanya. Polanya diduplikasi ke topik dia sendiri.
Hasilnya: 17,8 juta views, dan satu postingan tembus 1,2 juta views dalam sehari.
Storytelling 10 utas + CTA di ujung
Bukan konten affiliate, tapi cerita bersambung 10 utas dengan CTA di akhir. Hitungan Rino: paling jelek tiap utas bawa 1 follower, jadi minimal 10 follower per posting. Pas lagi puncak, akunnya tumbuh 2.000–3.000 follower per hari.
Satu aturan penting: link jangan ditaruh di caption utama. Biarin postingannya jalan dulu, baru link masuk di komentar.
Threads "digulung" jadi follower Instagram
Data interaksi dari Threads dipakai lagi buat training AI dan uji coba konten di Instagram. Dalam 14 hari, Instagram-nya dapat ±50.000 follower (udah dikurangin yang unfollow), organik.
Kalau dikejar pakai ads, hitungan Rino biaya per follower sekitar Rp400–Rp1.000. Artinya 50.000 follower itu setara puluhan juta rupiah budget iklan.

